Full Asuhan Keperawatan

http://fullasuhankeperawatan.blogspot.com/.

Full Asuhan Keperawatan

http://fullasuhankeperawatan.blogspot.com/ .

Full Asuhan Keperawatan

http://fullasuhankeperawatan.blogspot.com/ .

Full Asuhan Keperawatan

http://fullasuhankeperawatan.blogspot.com/.

Full Asuhan Keperawatan

http://fullasuhankeperawatan.blogspot.com/.

Sabtu, 03 Desember 2011

ASUHAN ASUHAN KEPERAWATAN POST KEPERAWATAN POST PARTUM PARTUM

• Masa nifas (puerperium) adalah masa
setelah plasenta lahir dan berakhir
ketika alat-alat kandungan kembali
seperti keadaan sebelum hamil. Masa
nifas berlangsung selama kira-kira 6
minggu (Abdul Bari. S, dkk, 2002)
INTI POST PARTUM INTI POST PARTUM
  INVOLUSI (LOKEA) INVOLUSI (LOKEA)
  LAKTASI LAKTASI
  MOBILISASI MOBILISASIPembagian Masa Nifas
• Puerperium dini, yaitu kepulihan dimana
ibu telah diperbolehkan berdiri dan
berjalan-jalan.
• Puerperium intermedial, yaitu kepulihan
menyeluruh alat-alat genitalis yang
lamanya 6 – 8 minggu.
• Remote puerperium, waktu yang
diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna terutama bila selama hamil
atau waktu persalinan mempunyai
komplikasi.Perubahan Fisiologis Pada Masa Nifas
» Uterus
• Uterus secara berangsur-angsur
menjadi kecil (involusi) sehingga
akhirnya kembali seperti sebelum hamil
» Bayi lahir fundus uteri setinggi pusat dengan
berat uterus 1000 gr
» Akhir kala III persalinan tinggi fundus uteri
teraba 2 jari bawah pusat dengan berata
uterus 750 gr.
» Satu minggu post partum tinggi fundus uteri
teraba pertengan pusat simpisis dengan berat
uterus 500 gr
» Dua minggu post partum tinggi fundus uteri
tidak teraba diatas simpisis dengan berat
uterus 350 gr
» Enam minggu postpartum fundus uteri
bertambah kecil dengan berat uterus 50 grLochea
 Lochea adalah cairan sekret
yang berasal dari cavum uteri
dan vagina dalam masa nifas• Macam – macam Lochea
» Lochea rubra (Cruenta ): berisi
darah segar dan sisa – sisa selaput
ketuban, sel-sel desidua, verniks
kaseosa, lanugo, dam mekonium,
selama 2 hari post partum.
» Lochea Sanguinolenta : berwarna
kuning berisi darah dan lendir, hari
3 – 7 post partum.
» Lochea serosa : berwarna kuning
cairan tidak berdarah lagi, pada
hari ke 7 - 14 post partum
» Lochea alba : cairan putih, setelah
2 minggu
» Lochea purulenta : terjadi infeksi,
keluar cairan seperti nanah berbau
busuk
» Lochea stasis : lochia tidak lancar
keluarnya.Serviks
• Serviks mengalami involusi
bersama-sama uterus. Setelah
persalinan, ostium eksterna dapat
dimasuki oleh 2 hingga 3 jari
tangan, setelah 6 minggu persalinan
serviks menutupVulva dan Vagina
• Vulva dan vagina mengalami penekanan
serta peregangan yang sangat besar
selama proses melahirkan bayi, dan
dalam beberapa hari pertama sesudah
proses tersebut, kedua organ ini tetap
berada dalam keadaan kendur. Setelah 3
minggu vulva dan vagina kembali kepada
keadaan tidak hamil dan rugae dalam
vagina secara berangsur-angsur akan
muncul kembali sementara labia manjadi
lebih menonjol.Perineum
• Segera setelah melahirkan,
perineum menjadi kendur karena
sebelumnya teregang oleh tekanan
kepala bayi yang bergerak maju.
Pada post natal hari ke 5, perineum
sudah mendapatkan kembali
sebagian besar tonusnya sekalipun
tetap lebih kendur dari pada
keadaan sebelum melahirkan.Payudara
• Perubahan pada payudara dapat
meliputi :
» Penurunan kadar progesteron secara cepat
dengan peningkatan hormon prolaktin
setelah persalinan.
» Kolostrum sudah ada saat persalinan
produksi Asi terjadi pada hari ke-2 atau
hari ke-3 setelah persalinan.
» Payudara menjadi besar dan keras sebagai
tanda mulainya proses laktasiSistem Perkemihan
• Buang air kecil sering sulit selama 24 jam
pertama, kemungkinan terdapat spasme sfingter
dan edema leher buli-buli sesudah bagian ini
mengalami kompresi antara kepala janin dan
tulang pubis selama persalinan.
• Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan
dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan.
Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon
estrogen yang bersifat menahan air akan
memgalami penurunan yang mencolok. Keadaan
ini menyebabkan diuresis. Ureter yang
berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6
mingguSistem Gastrointestinal
• Seringkali  diperlukan waktu 3 – 4 hari
sebelum faal usus kembali normal.
Meskipun kadar progesteron menurun
setelah melahirkan, namun asupan
makanan juga mengalami penurunan
selama satu atau dua hari, gerak tubuh
berkurang dan usus bagian bawah sering
kosong jika sebelum melahirkan diberikan
enema. Rasa sakit didaerah perineum
dapat menghalangi keinginan ke belakangSistem Kardiovaskuler
• Setelah terjadi diuresis yang mencolok akibat
penurunan kadar estrogen, volume darah
kembali kepada keadaan tidak hamil. Jumlah sel
darah merah dan hemoglobin kembali normal
pada hari ke-5.
• Meskipun kadar estrogen mengalami penurunan
yang sangat besar selama masa nifas, namun
kadarnya masih tetap lebih tinggi daripada
normal. Plasma darah tidak begitu mengandung
cairan dan dengan demikian daya koagulasi
meningkat. Pembekuan darah harus dicegah
dengan penanganan yang cermat dan penekanan
pada ambulasi dini.Sistem Endokrin
• Kadar estrogen menurun 10%
dalam waktu sekitar 3 jam post
partum. Progesteron turun pada
hari ke 3 post partum.Sistem muskulosklebal
• Ambulasi pada umumnya dimulai 4 –
8 jam post partum. Ambulasi dini
sangat membantu untuk mencegah
komplikasi dan mempercepat proses
involusi.Sistem integumen
• Penurunan melanin umumnya setelah
persalinan menyebabkan berkurangnya
hyperpigmentasi kulit
• Perubahan pembuluh darah yang tampak
pada kulit karena kehamilan dan akan
menghilang pada saat estrogen
menurun.Perawatan Pasca
Persalinan
• Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus
istirahat, tidur terlentang selama 8 jam pasca
persalinan. Kemudian boleh miring-miring
kekanan dan kekiri untuk mencegah terjadinya
trombosis dan tromboemboli. Pada hari ke 2
diperbolehkan duduk, hari ke 3 jalan-jalan, dan
hari ke 4 atau 5 sudah diperbolehkan pulang.
Mobilisasi diatas mempunyai variasi, bergantung
pada komplikasi persalinan, nifas dan
sembuhnya luka-luka.Diet
• Makanan harus bermutu, bergizi,
dan cukup kalori. Sebaiknya makan
makanan yang mengandong protein,
banyak cairan, sayur-sayuran dan
buah-buahan.Miksi
• Hendaknya kencing dapat dilakukan
sendiri secepatnya. Kadang-kadang
wanita mengalami sulit kencing, karena
sfingter uretra ditekan oleh kepala janin
dan spasme oleh iritasi m.sphincer ani
selama persalinan. Bila kandungan kemih
penuh dan wanita sulit kencing,
sebaiknya dilakukan kateterisasi.Defekasi
• Buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca
persalinan. Bila masih sulit buang air besar dan
terjadi obstipasi apalagi berak keras dapat
diberikan obat laksans per oral atau per rektal.
Jika masih belum bisa dilakukan klisma. Buang
air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca
persalinan. Bila masih sulit buang air besar dan
terjadi obstipasi apalagi berak keras dapat
diberikan obat laksans per oral atau per rektal.
Jika masih belum bisa dilakukan klisma.Perawatan payudara
(mamma)
• Perawatan mamma telah dimulai sejak
wanita hamil supaya putting susu lemas,
tidak keras dan kering sebagai persiapan
untuk menyusui bayinya. Bila bayi
meninggal, laktasi harus dihentikan
dengan cara :
» Pembalutan mamma sampai tertekan.
– Pemberian obat estrogen untuk supresi LH seperti
tablet lynoral dan parlodel• Dianjurkan sekali supaya ibu
menyusukan bayinya karena sangat
baik untuk kesehatan bayinya.
• (Inisiasi Menyusui 1 jam pertama)Laktasi
• Proliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar,
alveoli dan jaringan lemak bertambah.
• Keluaran cairan susu jolong dari duktus
laktiferus disebut colostrum, berwarna kuning
putih susu.
• Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian
dalam, dimana vena-vena berdilatasi sehingga
tampak jelas.
• Setelah persalinan, pengaruh supresi strogen
dan progesteron hilang. Maka timbul pengaruh
hormon laktogenik (LH) atau prolaktin yang
akan merangsang air susu. Disamping itu,
pengaruh oksitosin menyebabkan mio-epitel
kelenjar susu berkontraksi sehingga air susu
keluar. Produksi akan banyak sesudah 2-3
hari pasca persalinan.Adaptasi Psikologis Pada
Masa Nifas
• Periode masa nifas merupakan waktu untuk
terjadi stres, terutama ibu primipara.
• Fungsi yang mempengaruhi untuk sukses dan
lancarnya masa transisi menjadi orang tua.
• Respon dan support dari keluarga dan teman
dekat.
• Riwayat pengalaman hamil dan melahirklan yang
lalu.Periode ini diexpresikan oleh
reva rubin yang terjadi
3 tahap yaitu :
1. Talking In period• Terjadi pada hari 1-2 setelah
persalinan, ibu masih pasif dan
sangat tergantung, fokus perhatian
terhadap tubuhnya, ibu lebih
mengingat pengalaman melahirkan
dan persalinan yang dialami,
kebutuhan tidur meningkat, nafsu
makan meningkat.Taking Hold Period
• Berlangsung 3-4 hari post partum, ibu
lebih berkonsentrasi pada kemampuannya
menerima tanggungjawab sepenuhnya
terhadap perawatan bayi. Pada masa ini
ibu menjadi sangat sensitif sehingga
membutuhkan bimbingan dan dorongan
perawat untuk mengatasi kritikan yang
dialami ibu.Letting Go Period
• Dialami setelah tiba dirumah secara penuh
merupakan pengaturan bersama keluarga, ibu
menerima tanggung jawab sebagai ibu dan ibu
menyadari atau merasa kebutuhan bayi yang
sangat tergantung dari kesehatan sebagai ibu.
Dialami setelah tiba dirumah secara penuh
merupakan pengaturan bersama keluarga, ibu
menerima tanggung jawab sebagai ibu dan ibu
menyadari atau merasa kebutuhan bayi yang
sangat tergantung dari kesehatan sebagai ibu.
PENGKAJIAN POST
PARTUM
• A. BIODATA KLIEN
Biodata klien berisi tentang : Nama,
Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku,
Agama, Alamat, No. Medical Record,
Nama Suami, Umur, Pendidikan,
Pekerjaan , Suku, Agama, Alamat,
Tanggal Pengkajian.
PEMERIKSAAN FISIK
• 1. Keadaan Umum : Tingkat energi,
self esteem, tingkat kesadaran.
2. BB, TB, LLA, Tanda Vital normal
(RR konsisten, Nadi cenderung bradi
cardy, suhu 36,2-38, Respirasi 16-24)
3. Kepala : Rambut, Wajah, Mata
(conjunctiva), hidung, Mulut, Fungsi
pengecapan; pendengaran, dan leher.
• 4. Breast : Pembesaran, simetris,
pigmentasi, warna kulit, keadaan areola dan
puting susu, stimulation nepple erexi.
Kepenuhan atau pembengkakan, benjolan,
nyeri, produksi laktasi/kolostrum. Perabaan
pembesaran kelenjar getah bening
diketiak.
5. Abdomen : teraba lembut , tekstur
Doughy (kenyal), musculus rectus
abdominal utuh (intact) atau terdapat
diastasis, distensi, striae. Tinggi fundus
uterus, konsistensi (keras, lunak, boggy),
lokasi, kontraksi uterus, nyeri, perabaan
distensi blas.
• 6. Anogenital
Lihat struktur, regangan, udema vagina, keadaan
liang vagina (licin, kendur/lemah) adakah hematom,
nyeri, tegang. Perineum : Keadaan luka episiotomy,
echimosis, edema, kemerahan, eritema, drainage.
Lochia (warna, jumlah, bau, bekuan darah atau
konsistensi , 1-3 hr rubra, 4-10 hr serosa, > 10 hr
alba), Anus : hemoroid dan trombosis pada anus.
• 7. Muskoloskeletal : Tanda Homan, edema, tekstur
kulit, nyeri bila dipalpasi, kekuatan otot.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
• 1. Darah : Hemoglobin dan Hematokrit 12-
24 jam post partum (jika Hb < 10 g%
dibutuhkan suplemen FE), eritrosit,
leukosit, Trombosit.
• 2. Klien dengan Dower Kateter diperlukan
culture urine.
KONSEP DIRI
• Sikap penerimaan ibu terhadap
tubuhnya, keinginan ibu menyusui,
persepsi ibu tentang tubuhnya
terutama perubahan-perubahan
selama kehamilan, perasaan klien bila
mengalami opresi SC karena CPD atau
karena bentuk tubuh yang pendek.
SEXUAL
• Bagaimana pola interaksi dan hubungan
dengan pasangan meliputi freguensi koitus
atau hubungan intim, pengetahuan pasangan
tentang seks, keyakinan, kesulitan
melakukan seks, continuitas hubungan
seksual. Pengetahuan pasangan kapan
dimulai hubungan intercourse pasca partum
(dapat dilakukan setelah luka episiotomy
membaik dan lochia terhenti, biasanya pada
akhir minggu ke 3).
KEBIASAAN SEHARI-HARI
• Pola nutrisi : pola menu makanan yang
dikonsumsi, jumlah, jenis makanan (Kalori,
protein, vitamin, tinggi serat), freguensi,
konsumsi snack (makanan ringan), nafsu
makan, pola minum, jumlah, freguensi,.
b. Pola istirahat dan tidur : Lamanya, kapan
(malam, siang), rasa tidak nyaman yang
mengganggu istirahat, penggunaan selimut,
lampu atau remang-remang atau gelap,
apakah mudah terganggu dengan suara-
suara, posisi saat tidur (penekanan pada
perineum).
• Pola eliminasi : Apakah terjadi diuresis,
setelah melahirkan, adakah inkontinensia
(hilangnya infolunter pengeluaran urin),
hilangnya kontrol blas, terjadi over
distensi blass atau tidak atau retensi urine
karena rasa talut luka episiotomi, apakah
perlu bantuan saat BAK. Pola BAB,
freguensi, konsistensi, rasa takut BAB
karena luka perineum, kebiasaan
penggunaan toilet.
• Personal Hygiene : Pola mandi, kebersihan
mulut dan gigi, penggunaan pembalut dan
kebersihan genitalia, pola berpakaian,
tatarias rambut dan wajah
e. Aktifitas : Kemampuan mobilisasi
beberapa saat setelah melahirkan,
kemampuan merawat diri dan melakukan
eliminasi, kemampuan bekerja dan
menyusui.
f. Rekreasi dan hiburan : Situasi atau
tempat yang menyenangkan, kegiatan yang
membuat fresh dan relaks.
PROFIL KELUARGA
• Kebutuhan informasi pada keluarga,
dukungan orang terdekat, sibling,
type rumah, community seeting,
penghasilan keluarga, hubungan social
dan keterlibatan dalam kegiatan
masyarakat.
RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
• Adakah anggota keluarga yang
menderita penyakit yang diturunkan
secara genetic, menular, kelainan
congenital atau gangguan kejiwaan
yang pernah diderita oleh keluarga.
RIWAYAT PSIKOSOSIAL-KULTURAL
• Blues : Perasaan sedih, kelelahan,
kecemasan, bingung dan mudah
menangis.
Depresi : Konsentrasi, minat,
perasaan kesepian, ketidakamanan,
berpikir obsesif, rendahnya emosi
yang positif, perasaan tidak berguna,

Jumat, 02 Desember 2011

Asuhan Keperawatan DIC

A. KONSEP DASAR

a. Definisi

DIC adalah kelainan trombhohemoragy yang terjadi, bukan sebagai pemisahan kesatuan, tetapi sebagai komplikasi kelainan tertentu.

DIC merupakan suatu keadaaan unik yang ditandai oleh pembentukan emboli multipel diseluruh mikrovaskular.

DIC merupakan gangguan pembekuan darah dengan karakteristik adanya penumpukan fibrin pada arteriole dan seluruh tubuh yang kemudian menimbulkan pembekuan dan terjadinya perdarahan dari ginjal, otak, hati, dan organ-organ lain.

b. Etiologi

Hypofibrinogenemia
Trombositopenia
Beredarnya antikoagulan dalam sirkulasi darah
Fibrinolisis berlebihan

c. Manifestasi klinis

Perdarahan dari tempat-tempat pungsi, luka, dan membrane mukosa pada klien dengan syok, komplikasi persalinan, sepsis atau kanker.
Perubahan kesadaran yang mengindikasikan thrombus serebrum.
Distensi abdomen yang menandakan adanya perdarahan saluran cerna.
Sianosis dan takipnea akibat buruknya perfusi dan oksigenasi jaringan.
Hematuria akibat perdarahan atau oliguria akibat menurunnya perfusi ginjal.

d. Patofisiologi

Adanya keadaan perubahan factor pembekuan tertentu mengakibatkan pelepasan substansi tromboplastik yang kemudian mengaktivasi thrombin dan selanjutnya akan mengaktifkan fibrinogen dan berakibat penumpukan fibrin pada mikrosirkulasi. Agregasi patelet/trombosit atau dhesivitas yang meningkat memungkinkan fibrin membeku dan terbentuk mikrotrombin di otak, ginjal, jantung, dan organ-organ lain sehingga menyebabkan mikroinfark dan nekrosis jaringan. Pada sisi lain sel-sel darah merah terkepung pada benang fibrin dan mengalami kerusakan (hemolisis) mengakibatkan penurunan aliran darah, berkurangnya trombosit, protombin, dan factor pembekuan yang meluas mengaktivasi mekanisme fibrinolitik. Sehingga menyebabakan produksi zat pemecah fibrin. Zat peecah fibrin bekerja menghambat fungsi pembekuan trombosit, yang memungkinkan koagulasi menjadi lambat dan memicu perdarahan lebuh lanjut.

e. Pathway
f. Pemeriksaan penunjang

Tes laboratorium yang mengidentifikasikan DIC adalah :
Protombin time memanjang
Fibrinogen menurun
Jumlah trombosit menurun

g. Penatalaksanaan

Menghilangkan factor pencetus
Tindakan pendukung, seperti O₂ suplemen dan cairan IV untuk mempertahankan tekanan darah.
Terapy heparin, heparin dapat diberikan 200U/Kg BB IV tiap 4-6jam.
Terapy pengganti., darah atau PRC diberikan untuk mengganti darah yang keluar, tranfusi, trombosit, dan plasma beku segar untuk mengontrol perdarahan.
Obat penghambat fibrinolitik (amicar)yang memblok akumulasi produk degradasi fibrin dan harus diberikan setelah terapy heparin.
Dapat diberikan plasma yang mengandung factor VIII, sel darah merah dan tombosit.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

a. Pengkajian

1) Kaji adanya fakrtor-faktor predisposisi,
Septicemia
Komplikasi obstetric
Syndrome distress pernapasan dewasa/ARDS
Luka bakar, berat, dan luas
Trauma
2) Pemeriksaan fisik dapat menunjukkan,
Perdarahan
Hematuria
Rembesan darah dari sisi pungsi vena dan luka
Epitaksis
Perdarahan GI Tract (hematemesis melena)
3) Kerusakan perfusi jaringan
Serebral, perubahan pada sensorium, gelisah, kacau mental, atau sakit kepala
Ginjal, penurunan pengeluaran urine
Paru, dipsnea, ortopnue
Kulit, akrosianosis (ketidakteraturan bentuk, bercak sianosis, pada lengan perifer atau kaki)
4) Pemeriksaan diagnostic
Jumlah trombolisis rendah
Degradasi produk fibrin meningkat
Kadar fibrinogen plasma darah rendah

b. Diagnosa keperawatan

1) Resiko tinggi gangguan keseimbangan cairan, defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan ditandai penurunan tingkat kesadaran , output urin kurang, adanya perdarahan pada kulit, mukosa, dan GI.
Tujuan →keseimbangan cairan terjaga, output urine ≥ 30ml/jam, perdarahan tidak terjadi.
KH→
2) Resiko terjadinya gangguan perfusi jaringan sehubungan adanya mikrotrombus ditandai adanya gas darah yang abnormal, edema, bunyi nafas tidak normal, tingkat kesadaran menurun.
Tujuan →perfusi jaringan adekuat, ditandai akral hangat, tidak adanya sianosis, kavilari refill < 3detik. KH → 3) Resiko kerusakan integras kulit berhubungan dengan adanya iskemia atau perdarahan, ditandai adanya mikroemboli pada vaskuler, perubahan warna kulit pada lokasi mikroemboli. Tujuan →integritas kulit utuh, mukosa mulut utuh. KH → c. Intervensi Dx. Rencana tindakan Rasional 1. Monitor adanya perdarahan pada kulit, mukosa mulut , hidung, saluran cerna. Ukur tanda-tanda vital setiap 4jam. Monitor output urine. Berikan minum oral secara adekuat. Lakukan kebersihan mulut dengan hati-hati. Hindari injeksi IM, IV. Hindari pengobatan melalui rectal. Hindari aktivitas yang dapat meningkatkan peningkatan tekanan intrakranial, seperti batuk, mengedan, bersin. Monitor hasil pemeriksaan darah seperti trombosit dan factor pembekuan. Mengidentifikasi perdarahan lebih luas,penanganan lebih dini. Perdarahan dapat menimbulkan syok dengan penurunan tekanan darah. Salah satu indikator keseimbangan cairan. Meningkatkan asupan cairan. Mencegah perdarahan. Mencegah pedarahan. Mencegah perdarahan pada rectal. Mencegah perdarahan intracranial. Penurunan trombosit dan factor pembekuan merupakan penyebab perdarahan. 2. Oservasi tanda-tanda gangguan perfusi jaringan seperti akral dingin, adanya keringat dingin, kavilarri refill > 3detik.
Ukur tanda-tanda vital setiap 4jam.
Kaji sistem neorologi , pernapasan dan kulit.
Monitor respon pemberian heparin.
Monitor hasil pemeriksaan darah tentang factor pembekuan.
Mengidentifikasi adanya gangguan perfusi jaringan tubuh.
Tekanan darah menurun pada gangguan perfusi jaringan.
Thrombosis dapat menimbulkan kegagalan fungsi organ.
Pemberian heparin mempengaruhi jumlah fibrinogen.
Mengetahui kemajuan/perbaikan kondisi pasien.
3.
Kaji keadaan kulit yang tertekan tulang dan daerah lipatan.
Ganti posisi secara hati-hati dan gunakan tempat tidur yang lembut.
Gunakan alat-alat yang lembut seperti sikat gigi dan alas kaki.
Lakukan perwatan kulit, jaga kulit tetap bersih dan kering.
Lakukan penekanan yang lma, lebih lama pada tempat injeksi.
Laksanakan program pengobatan untuk mencegah pembekuan atau perdarahan.
Area yang tertekan sangat beresiko terjadinya kerusakan kulit.
Meningkatkan sirkulasi darah dan mencegah dekubitus.
Mencegah terjadinya perlukaan dan injury.
Kulit kotor menjdi gatal dan mudah lecet.
Mencegah perdarahan.
Mengatasi factor penyebab.

DAFTAR PUSTAKA
Engram, Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Warnanah. 2008. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta :
Handayani, Wiwik. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta : Salemba Medika.

Kamis, 01 Desember 2011

Alternatif Pilihan untuk Mengobati Alergi Rinitis

oleh: Stacey M Kerr MD

Di California utara, alergi merupakan masalah kesehatan yang signifikan menyebabkan kelelahan, dan infeksi sekunder. Alergi Rhinitis adalah suatu reaksi terhadap alergen udara musiman. Ini mempengaruhi sekitar 7 persen dari populasi Amerika Utara dan merupakan faktor risiko 88 persen pasien asma. Kami memiliki beberapa obat resep yang sangat baik untuk mengobati ini, dan ada obat over-the-counter yang tersedia juga. Namun, AWAS efek penenang dari obat nonprescription! Studi terbaru menunjukkan bahwa seorang individu pada dosis terapi diphenhydramine (Benedryl) adalah lebih berbahaya daripada orang yang mabuk alkohol. Untungnya, ada juga beberapa terapi alternatif yang efektif untuk alergi rhinitis.

Ingat: tidak peduli apa metode yang Anda gunakan untuk mengobati alergi anda, bilasan hidung untuk membersihkan selaput lendir dari alergen sangat penting. Ini hanya membutuhkan waktu sekitar 30 detik, tidak terlalu sakit bila dilakukan dengan benar. Saya sarankan Nasopure ®, sebuah produk yang dikembangkan oleh Dr Hana Salomo, seorang dokter anak dapat digunakan untuk membilas hidung. Ada sebuah artikel bagus tentang ini di situs Nasopure (www.nasopure.com). Jika Anda secara teratur menggunakan Nasopure, dan masih mengalami kesulitan, Anda dapat mencoba beberapa obat berikut tanpa efek samping yang signifikan.

Vitamin dan mineral suplemen:
* Vitamin A - 10.000 IU / hari
* Vitamin B6 - 50-100 mg / hari
* Vitamin B5 - 50-75 mg / hari
* Vitamin C - 1.000 mg / hari dalam 3 dosis terbagi
* Vitamin E - 400 IU / hari
* Zinc - 20-30 mg / hari

Selain itu beberapa tumbuhan dan nutrisi dapat membantu:
Quercetin memiliki anti-alergi dan efek anti-inflamasi jika Anda bawa 250mg dua atau tiga kali sehari. Beku-kering jelatang menyengat (urtika dioica) dapat meringankan gejala alergi rhinitis pada dosis 300 mg dua kali sehari. Asam eicosapentaenoic (EPA) dan asam docosahexaenoic (DHA), juga disebut minyak ikan, dapat membantu pasien asma dengan alergi oleh menstabilkan saluran udara. Mereka datang dalam bentuk kapsul dan dosis total kombinasi harus 2-4 g / hari.
Akupunktur telah memberikan banyak pasien bantuan yang signifikan. Paradigma pengobatan Cina yang sangat berbeda dari kedokteran Barat, Tapi diketahui bahwa itu efektif! Sekian dulu dan Sehat selalu

ASUHAN KEPERAWATAN VESIKOLITIASIS (BATU KANDUNG KEMIH)



A.Pengertian

Batu perkemihan dapat timbul pada berbagai tingkat dari sistem perkemihan (ginjal, ureter, kandung kemih), tetapi yang paling sering ditemukan ada di dalam ginjal (Long, 1996:322).

Vesikolitiasis merupakan batu yang menghalangi aliran air kemih akibat penutupan leher kandung kemih, maka aliran yang mula-mula lancar secara tiba-tiba akan berhenti dan menetes disertai dengan rasa nyeri (Sjamsuhidajat dan Wim de Jong, 1998:1027).

Pernyataan lain menyebutkan bahwa vesikolitiasis adalah batu kandung kemih yang merupakan keadaan tidak normal di kandung kemih, batu ini mengandung komponen kristal dan matriks organik (Sjabani dalam Soeparman, 2001:377).

Vesikolitiasis adalah batu yang ada di vesika urinaria ketika terdapat defisiensi substansi tertentu, seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat atau ketika terdapat defisiensi subtansi tertentu, seperti sitrat yang secara normal mencegah terjadinya kristalisasi dalam urin (Smeltzer, 2002:1460).

Hidronefrosis adalah dilatasi piala dan kaliks ginjal pada salah satu atau kedua ginjal akibat adanya obstruksi (Smeltzer, 2002:1442). Long, (1996:318) menyatakan sumbatan saluran kemih yang bisa terjadi dimana saja pada bagian saluran dari mulai kaliks renal sampai meatus uretra. Hidronefrosis adalah pelebaran/dilatasi pelvis ginjal dan kaliks, disertai dengan atrofi parenkim ginjal, disebabkan oleh hambatan aliran kemih. Hambatan ini dapat berlangsung mendadak atau perlahan-lahan, dan dapat terjadi di semua aras (level) saluran kemih dari uretra sampai pelvis renalis (Wijaya dan Miranti, 2001:61).

Vesikolithotomi adalah alternatif untuk membuka dan mengambil batu yang ada di kandung kemih, sehingga pasien tersebut tidak mengalami ganguan pada aliran perkemihannya Franzoni D.F dan Decter R.M (http://www.medscape.com, 8 Juli 2006)Email ThisClose .

B.Etiologi
Menurut Smeltzer (2002:1460) bahwa, batu kandung kemih disebabkan infeksi, statis urin dan periode imobilitas (drainage renal yang lambat dan perubahan metabolisme kalsium).

Faktor- faktor yang mempengaruhi menurut Soeparman (2001:378) batu kandung kemih (Vesikolitiasis) adalah

1. Hiperkalsiuria
Suatu peningkatan kadar kalsium dalam urin, disebabkan karena, hiperkalsiuria idiopatik (meliputi hiperkalsiuria disebabkan masukan tinggi natrium, kalsium dan protein), hiperparatiroidisme primer, sarkoidosis, dan kelebihan vitamin D atau kelebihan kalsium.

2. Hipositraturia
Suatu penurunan ekskresi inhibitor pembentukan kristal dalam air kemih, khususnya sitrat, disebabkan idiopatik, asidosis tubulus ginjal tipe I (lengkap atau tidak lengkap), minum Asetazolamid, dan diare dan masukan protein tinggi.

3. Hiperurikosuria
Peningkatan kadar asam urat dalam air kemih yang dapat memacu pembentukan batu kalsium karena masukan diet purin yang berlebih.

4. Penurunan jumlah air kemih
Dikarenakan masukan cairan yang sedikit.

5. Jenis cairan yang diminum
Minuman yang banyak mengandung soda seperti soft drink, jus apel dan jus anggur.

6. Hiperoksalouria
Kenaikan ekskresi oksalat diatas normal (45 mg/hari), kejadian ini disebabkan oleh diet rendah kalsium, peningkatan absorbsi kalsium intestinal, dan penyakit usus kecil atau akibat reseksi pembedahan yang mengganggu absorbsi garam empedu.

7. Ginjal Spongiosa Medula
Disebabkan karena volume air kemih sedikit, batu kalsium idiopatik (tidak dijumpai predisposisi metabolik).

8.Batu Asan Urat
Batu asam urat banyak disebabkan karena pH air kemih rendah, dan hiperurikosuria (primer dan sekunder).

9. Batu Struvit
Batu struvit disebabkan karena adanya infeksi saluran kemih dengan organisme yang memproduksi urease.
Kandungan batu kemih kebayakan terdiri dari :
1.75 % kalsium.
2.15 % batu tripe/batu struvit (Magnesium Amonium Fosfat).
3.6 % batu asam urat.
4.1-2 % sistin (cystine).

C.Pathofisiologi
Kelainan bawaan atau cidera, keadan patologis yang disebabkan karena infeksi, pembentukan batu disaluran kemih dan tumor, keadan tersebut sering menyebabkan bendungan. Hambatan yang menyebabkan sumbatan aliran kemih baik itu yang disebabkan karena infeksi, trauma dan tumor serta kelainan metabolisme dapat menyebabkan penyempitan atau struktur uretra sehingga terjadi bendungan dan statis urin. Jika sudah terjadi bendungan dan statis urin lama kelamaan kalsium akan mengendap menjadi besar sehingga membentuk batu (Sjamsuhidajat dan Wim de Jong, 2001:997).
Proses pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh beberapa faktor yang kemudian dijadikan dalam beberapa teori (Soeparman, 2001:388):

1. Teori Supersaturasi
Tingkat kejenuhan komponen-komponen pembentuk batu ginjal mendukung terjadinya kristalisasi. Kristal yang banyak menetap menyebabkan terjadinya agregasi kristal dan kemudian menjadi batu.
2. Teori Matriks
Matriks merupakan mikroprotein yang terdiri dari 65 % protein, 10 % hexose, 3-5 hexosamin dan 10 % air. Adanya matriks menyebabkan penempelan kristal-kristal sehingga menjadi batu.
3. Teori Kurangnya Inhibitor
Pada individu normal kalsium dan fosfor hadir dalam jumlah yang melampaui daya kelarutan, sehingga membutuhkan zat penghambat pengendapan. fosfat mukopolisakarida dan fosfat merupakan penghambat pembentukan kristal. Bila terjadi kekurangan zat ini maka akan mudah terjadi pengendapan.
4. Teori Epistaxy
Merupakan pembentuk batu oleh beberapa zat secara bersama-sama. Salah satu jenis batu merupakan inti dari batu yang lain yang merupakan pembentuk pada lapisan luarnya. Contoh ekskresi asam urat yang berlebih dalam urin akan mendukung pembentukan batu kalsium dengan bahan urat sebagai inti pengendapan kalsium.
5. Teori Kombinasi
Batu terbentuk karena kombinasi dari bermacam-macam teori diatas.

D.Manifestasi Klinis
Batu yang terjebak di kandung kemih biasanya menyebabkan iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan hematuria, jika terjadi obstruksi pada leher kandung kemih menyebabkan retensi urin atau bisa menyebabkan sepsis, kondisi ini lebih serius yang dapat mengancam kehidupan pasien, dapat pula kita lihat tanda seperti mual muntah, gelisah, nyeri dan perut kembung (Smeltzer, 2002:1461).
Jika sudah terjadi komplikasi seperti seperti hidronefrosis maka gejalanya tergantung pada penyebab penyumbatan, lokasi, dan lamanya penyumbatan.
Jika penyumbatan timbul dengan cepat (Hidronefrosis akut) biasanya akan menyebabkan koliks ginjal (nyeri yang luar biasa di daerah antara rusuk dan tulang punggung) pada sisi ginjal yang terkena. Jika penyumbatan berkembang secara perlahan (Hidronefrosis kronis), biasanya tidak menimbulkan gejala atau nyeri tumpul di daerah antara tulang rusuk dan tulang punggung.
Selain tanda diatas, tanda hidronefrosis yang lain menurut Samsuridjal (http://www.medicastore.com, 26 Juni 2006) adalah:

1.Hematuri.

2.Sering ditemukan infeksi disaluran kemih.

3.Demam.

4.Rasa nyeri di daerah kandung kemih dan ginjal.

5.Mual.

6.Muntah.

7.Nyeri abdomen.

8.Disuria.

9.Menggigil.


E. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjangnya dilakukan di laboratorium yang meliputi pemeriksaan:

1. Urine
* apH lebih dari 7,6 biasanya ditemukan kuman area splitting, organisme dapat berbentuk batu magnesium amonium phosphat, pH yang rendah menyebabkan pengendapan batu asam urat.
* Sedimen : sel darah meningkat (90 %), ditemukan pada penderita dengan batu, bila terjadi infeksi maka sel darah putih akan meningkat.
* Biakan Urin : Untuk mengetahui adanya bakteri yang berkontribusi dalam proses pembentukan batu saluran kemih.
* Ekskresi kalsium, fosfat, asam urat dalam 24 jam untuk melihat apakah terjadi hiperekskresi.
2. Darah
* Hb akan terjadi anemia pada gangguan fungsi ginjal kronis.
* Lekosit terjadi karena infeksi.
* Ureum kreatinin untuk melihat fungsi ginjal.
* Kalsium, fosfat dan asam urat.
3. Radiologis
* Foto BNO/IVP untuk melihat posisi batu, besar batu, apakah terjadi bendungan atau tidak.
* Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat dilakukan, pada keadaan ini dapat dilakukan retrogad pielografi atau dilanjutkan dengan antegrad pielografi tidak memberikan informasi yang memadai.
4. USG (Ultra Sono Grafi)
Untuk mengetahui sejauh mana terjadi kerusakan pada jaringan ginjal.
5. Riwayat Keluarga
Untuk mengetahui apakah ada anggota keluarga yang menderita batu saluran kemih, jika ada untuk mengetahui pencegahan, pengobatan yang telah dilakukan, cara mengambilan batu, dan analisa jenis batu.

F.Komplikasi

Komplikasi yang disebabkan dari Vesikolithotomi (Perry dan Potter, 2002:1842) adalah sebagai berikut:

1. Sistem Pernafasan
Atelektasis bida terjadi jika ekspansi paru yang tidak adekuat karena pengaruh analgetik, anestesi, dan posisi yang dimobilisasi yang menyebabkan ekspansi tidak maksimal. Penumpukan sekret dapat menyebabkan pnemunia, hipoksia terjadi karena tekanan oleh agens analgetik dan anestesi serta bisa terjadi emboli pulmonal.
2. Sistem Sirkulasi
Dalam sistem peredaran darah bisa menyebabkan perdarahan karena lepasnya jahitan atau lepasnya bekuan darah pada tempat insisi yang bisa menyebabkan syok hipovolemik. Statis vena yang terjadi karena duduk atau imobilisasi yang terlalu lama bisa terjadi tromboflebitis, statis vena juga bisa menyebabkan trombus atau karena trauma pembuluh darah.
3. Sistem Gastrointestinal
Akibat efek anestesi dapat menyebabkan peristaltik usus menurun sehingga bisa terjadi distensi abdomen dengan tanda dan gejala meningkatnya lingkar perut dan terdengar bunyi timpani saat diperkusi. Mual dan muntah serta konstipasi bisa terjadi karena belum normalnya peristaltik usus.
4. Sistem Genitourinaria
Akibat pengaruh anestesi bisa menyebabkan aliran urin involunter karena hilangnya tonus otot.
5. Sistem Integumen
Perawatan yang tidak memperhatikan kesterilan dapat menyebabkan infeksi, buruknya fase penyembuhan luka dapat menyebabkan dehisens luka dengan tanda dan gejala meningkatnya drainase dan penampakan jaringan yang ada dibawahnya. Eviserasi luka/kelurnya organ dan jaringan internal melalui insisi bisa terjadi jika ada dehisens luka serta bisa terjadi pula surgical mump (parotitis).
6. Sistem Saraf
Bisa menimbulkan nyeri yang tidak dapat diatasi.

ASUHAN KEPERAWATAN INTOKSIKASI INSEKTISIDA FOSFAT ORGANIK (IFO)



Pengertian umum :
Pestisida adalah semua yang dipakai untuk membasmi hama, antara lain terdiri dari :
a. Insektisida : Khusus untuk serangga
b. Rodentisida : Untuk membasmi tikus
c. Herbisida : Untuk membasmi tanaman pengganggu.

Dua macam insektisidayang paling banyak dipakai :
1. Insektisida hidrokarbon khorin (HK = Chlorida hydrocarbon)
2. Insektisida fosfat organik (IFO =organo phosphate insectiside)

Sifat-sifat IFO
Insektisida penghambat kholin esterase (cholinesterase inhibitor insecticide) merupakan insektisida poten yang paling banyak digunakan dalam pertanian dengan toksisitas yang tinggi. Dapat menembus kulit yang normal, dapat diserap lewat paru dan saluran makanan, tidak berakumulasi dalam jaringan tubuh seperti halnya golongan IHK.

Jenis-jenis IFO
1. Insektisida untuk dipakai dalam pertanian :
Tolly (Malathion)
Parathion
Basudin
Diazinon
Phosdrin
Systox

2. Insektisida untuk keperluan rumah tangga
Mafu (DDVP = Dichiorvos) Baygon (DDVP + Propoxur)
Raid (DDVP + Propoxur) Startox (DDVP + Allethrin)
Shelltox (DDVP + Pyrethroid)

Pathogenesis 
a. IFO bekerja dengan cara menghambat (inaktivasi) enzim asetil kholin esterase tubuh (KhE).
b. Dalam keadaan normal, enzim KhE bekerja untuk menghidralisis Akh dengan jalan mengadakan ikatan Akh-KhE yang bersifat inaktif.
c. Akibatnya akan terjadi penumpukan Akh ditempat-tempat tertentu, sehingga timbul gejala-gejala rangsangan Akh yang berlebihan, yang akan menimbulkan efek muskarinik, nikotinik dan SSP (menimbulkan stimulasi kemudian depresi SSP).
Pada keracunan IFO, ikatan IFO-KhE menetap (Irreversible)
Pada keracunan carbamate : bersifat sementara (reversible)
Secara farmakologik efek Akh dapat dibagi dalam 3 bagian, yaitu :
a. Muskarinik terutama pada otot polos saluran pencernaan makanan, kelenjar ludah dan keringat, pupil, bronkhus dan jantung.
b. Nikotinik, terutama pada otot-otot bergaris, bola mata, lidah, kelopak mata dan otot pernapasan.
c. SSP, menimbulkan rasa nyeri kepala, perubahan emosi, kejang-kejang sampai koma.

Diagnosis
1. Gambaran klinik
Yang palig menonjol adalah hiperaktivitas kelenjar-kelenjar ludah/air mata/keringat/urine/saluran pencernaan makanan (disngkat dengan SLUD = Salivasi, Lakrimasi, Urinasi dan diare), kelainan visus dan kesukaran bernapas.
a. Keracunan ringan
- Anoriksia - Nyeri kepala - Rasa lemah
- Rasa takut - Tremor lidah - Tremor kelopak mata
- Pupil miosis
b. Keracunan sedang
- Nausea - Muntah-muntah - Kejang/keram perut.
- Hipersalivasi - Hiperhidrosis - Fasikulasi otot
- Bradikardi
c. Keracunan berat
- Diare - Pupil “pin-Point” - Reaksi cahaya (-)
- Sesak napas - Sianosos - Edema paru
- Inkonteinensia urine - Inkotinensia feses - Konvulsi
- Koma - Blokade jantung - Akhirnya meninggal

2. Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan rutin tidak banyak menolong
b. Pemeriksaan khusus : pengukuran kadar kHE dalam sel darahmerah dan plasma, penting untuk memastikan diagnosis keracunan akut maupun kronik (menurun sekian % dari harga normal)
Keracunan akut : ringan 40 – 70 % N
Sedang 20 % N
Berat <> 75 % N.

3. Pemeriksaan PA
Pada keracunan akut, hasil pemeriksaan patologi biasanya tidak khas, sering hanya ditemukan adanya edema paru, dilatasi kapiler dan hiperemi paru, otak dan organ-organ lain.

Pengobatan
1. Resusitasi
a. Bebaskan jalan napas
b. Napas buatan + O2, kalau perlu gunakan respirator pada kegagalan napas yang berat.
c. Infus cairan kristaloid.
d. Hindari obat-obatan penekan SSP
2. Eliminasi
Emesis, katarsis, kumbah lambung, keramas rambut dan mandikan seluruh tubuh dengan sabun.
3. Antidotum
Atropin sulfat (SA) bekerja dengan menghambat efek akumulasi Akh pada pada tempat-tempat penumpukannya.
a. Mula-mula berikan bolus intra vena 1 – 2,5 mg, pada anak 0,05 mg/kg.
b. Dilanjutkan dengan 05 –1 mg setiap 5 – 10 menit sampai timbul gejala-gejala atropinisasi (muka merah, mulut kering, takhikardi, midriasis, febris, psikosis. Pada anak 0,02 – 0,05 mg/kg iv tiap 10 – 30 menit.
c. Selanjutnya setiap 2 – 4 – 6 dan 12 jam.
d. Pemberian SA dihentkan minimal 2 x 24 jam.
e. Penghentian SA yang mendadak dapat menimbulkan “rebound efect” berupa edema paru/kegagalan pernapasan akut, sering fatal.
Timbulnya gejala-gejala atropinisasi yang lengkap, dapat dipakai sebagai petunjuk adanya keracunan atropin.
Reaktivator KhE bekerja dengan memotong ikatan IFO-KhE sehinggatimbul reaktivitas ensim KhE. Yang terkenal 2 PAM (pyrydin – 2 – aldoxime methiodide /methcloride = Pralidoxime = Protopam). Hanya bermanfaat pada keracunan IFO, kontra indikasi pada keracunan carbamate.
Dosis 1 gr iv perlahan-lahan (10 – 20 menit), diulang setelah 6 – 8 jam, hanya diberikan bila pemberian atropin telah adekuat. Pada anak-anak 25 – 50 mg/kg BB iv, maksimal 1 gr/hari, dapat diulang setelah 6 – 8 jam.

Prognosis
Pada umumnya baik, bila pengobatan belum terlambat, beberapa kesalahan pengobatan sering terjadi, berupa :
a. Resusitasi kurang baik dikerjakan.
b. Eliminasi racun kurang baik.
c. Dosis atropin kurang adekuat, atau terlalu cepat dihentikan.

Pengkajian Keperawatan
a. Tanda-tanda vital
- Distress pernapasan
- Sianosis
- Takipnoe
b. Neurologi
IFO menyebabkan tingkat toksisitas SSP lebih tinggi, efek-efeknya termasuk letargi, peka rangsangan, pusing, stupor & koma.
c. GI Tract
Iritasi mulut, rasa terbakar pada selaput mukosa mulut dan esofagus, mual dan muntah.
d. Kardiovaskuler
Disritmia.
e. Dermal
Iritasi kulit
f. Okuler
Luka bakar kurnea
g. Laboratorium
Eritrosit menurun
Proteinuria
Hematuria
Hipoplasi sumsum tulang
h. Diagnostik
Radiografi dada dasar/foto polos dada
Analisa gas darah, GDA, EKG
Intervensi secara umum
Perawatan Suportif
1. Jalan nafas
2. Pernapasan
3. Sirkulasi

Pencegahan Absorbsi
1. pekak dianjurkan pada pasien dalam keadaan sadar dengan ingesti terhadap :
a. Distilat petroleum dalam jumlah yang besar
b. Distilat petroleum dengan adiktif toksik serius (logam berat, insektisida)
c. Hidrokarbon aromatik halogen.
2. Lakukan lavage pada pasien yang memerlukan dekontaminasi tetapi terlalu sakit untuk diberikan ipekak
3. Arang obat
4. Katartik Saline

Pemantauan Jantung : pada pasien simptomatik
Tekanan Ekspirasi :
Akhir positif mungkin diperlukan untuk mempertahankan oksigenasi yang adekuat.

Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Timbul
Diagnosa .1 :
Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan tubuh secara tidak normal
Tujuan : Tidak terjadi kekurangan cairan
Kriteria evaluasi :
Keseimbangan cairan adekuat
- Tanda-tanda vital stabil
- Turgor kulit stabil
- Membran mukosa lembab
- Pengeluaran urine normal 1 – 2 cc/kg BB/jam
Intervensi :
1. Monitor pemasukan dan pengeluaran cairan.
Rasional : Dokumentasi yang akurat dapat membantu dalam mengidentifikasi pengeluran dan penggantian cairan.
2. Monitor suhu kulit, palpasi denyut perifer.
Rasional : Kulit dingain dan lembab, denyut yang lemah mengindikasikan penurunan sirkulasi perifer dan dibutuhkan untuk pengantian cairan tambahan.
3. Catat adanya mual, muntah, perdarahan
Rasional : Mual, muntah dan perdarahan yang berlebihan dapat mengacu pada hipordemia.
4. Pantau tanda-tanda vital
Rasional : Hipotensi, takikardia, peningkatan pernapasan mengindikasikan kekurangan cairan (dehindrasi/hipovolemia).
5. Berikan cairan parinteral dengan kolaborasi dengan tim medis.
Rasional : Cairan parenteral dibutuhkan untuk mendukung volume cairan /mencegah hipotensi.
6. Kolaborasi dalam pemberian antiemetik
Rasional : Antiemetik dapat menghilangkan mual/muntah yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan pemasukan.
7. Berikan kembali pemasukan oral secara berangsur-angsur.
Rasional : Pemasukan peroral bergantung kepada pengembalian fungsi gastrointestinal.
8. Pantau studi laboratorium (Hb, Ht).
Rasional : Sebagai indikator/volume sirkulasi dengan kehilanan cairan.

Diagnosa .2 : Resiko pola napas tidak efektif berhubungan dengan efek langsung toksisitas IFO, proses inflamasi.
Tujuan : Pola napas efektif
Kriteria Evaluasi :
- RR normal : 14 – 20 x/menit
- Alan napas bersih, sputum tidak ada
Intervensi :
1. Pantau tingkat, irama pernapasan & suara napas serta pola pernapasan
Rasional : Efek IFO mendepresi SSP yang mungkin dapat mengakibatkan hilangnya kepatenan aliran udara atau depresi pernapasan, pengkajian yang berulang kali sangat penting karena kadar toksisitas mungkin berubah-ubah secara drastis.
2. Tinggikan kepala tempat tidur
Rasional : Menurunkan kemungkinan aspirasi, diagfragma bagian bawah untuk untuk menigkatkan inflasi paru.
3. Dorong untuk batuk/ nafas dalam
Rasional : Memudahkan ekspansi paru & mobilisasi sekresi untuk mengurangi resiko atelektasis/pneumonia.
4. Auskultasi suara napas
Rasional : Pasien beresiko atelektasis dihubungkan dengan hipoventilasi & pneumonia.
5. Berikan O2 jika dibutuhkan
Rasional : Hipoksia mungkin terjadi akibat depresi pernapasan
6. Kolaborasi untuk sinar X dada, GDA
Rasional : Memantau kemungkinan munculnya komplikasi sekunder seperti atelektasis/pneumonia, evaluasi kefektifan dari usaha pernapasan.

Diagnosa .3 : Koping individu tidak efektif berhubungan dengan kerentanan pribadi, kesulitan dalam keterampilan koping menangani masalah pribadi.
Tujuan : Koping individu efektif, tidak terjadi kerusakan perilaku adaptif dalam pemecahan masalah.
Kriteria Evaluasi :
- Klien mampu mengungkapkan kesadaran tentang penyalahgunaan bahan insektisida.
- Mampu menggunakan keterampilan koping dalam pemecahan masalah
- Mampu melakukan hubungan /interaksi sosial.
Intervensi :
1. Pastikan dengan apa pasien ingin disebut/dipanggil.
Rasional : Menunjukkan penghargaan dan hormat
2. Tentukan pemahaman situasi saat ini & metode koping sebelumnya terhadap masalah kehidupan.
Rasional : Memberi informasi tentang derajar menyangkal, mengidentifikasi koping yang digunakan pada rencana perawatan saat ini
3. Tetap tidak bersikap tidak menghakimi
Rasional : Konfrontasi menyebabkan peningkatan agitasi yang menurunkan keamanan pasien.
4. Berikan umpan balik positif
Rasional : Umpan balik yang positif perlu untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan kesadaran diri dalam perilaku
5. Pertahankan harapan pasti bahwa pasien ikut serta dalam terapi
Rasional : Keikut sertaan dihubungkan degan penerimaan kebutuhan terhadap bantuan, untuk bekerja.
6. Gunakan dukungan keluarga/teman sebaya untuk mendapatkan cara-cara koping.
Rasional : Dengnan pemahaman dan dukungan dari keluarga /teman sebaya dapat membantu menngkatkan kesadaran.
7. Berikan informasi tentang efek meneguk insektisida
Rasional : Agar klien mengetahui efek samping yang berakibat fatal pada organ-organ vital bila menelan insektisida (baygon)
8. Bantu pasien untuk menggunakan keterampilan relaksasi
Rasional : Relaksasi adalah pengembangan cara baru menghadapi stress.
Diagnosa .4 Koping keluarga tidak efektif (tidak mampu) berhubungan dengan kerentanan pribadi anggota keluarga, krisis situasi, sosial.
Tujuan : Koping keluarga efektif.
Kriteria Evaluasi :
- Mengungkapkan pengertian dinamika saling tergantung dan partisipasi dalam program individu dan keluarga.
- Mampu mengidentifikasi perilaku koping tidak efektif.
- Melakukanperubahan perilaku.
- Mendukung terhadap program pengobatan & perawatan keluarga.

Intervensi :
1. Kaji riwayat keluarga, gali masing-masing peran anggota keluarga
Rasional : Menentukan area untuk fokus, potensial perubahan.
2. Tentukan pemahaman situasi saat ini dan metode sebelumnya dari koping dengan masalah kehidupan.
Rasional : Memberikan dasar informasi sebagai dasar perencanaan saat ini
3. Kaji tingkat situasi/fungsi saat ini dari anggota keluarga.
Rasional : Mempengaruhi kemampuan individu untuk mengatasi situasi.
4. Tentukan luasnya perilaku mampu yang dibuktikan oleh anggota keluarga gali dengan individu dan pasien.
Rasional : Mampu adalah melakukan untuk pasien apa yang perlu untuk dirinya sendiri, individu ditolong dan tidak ingin merasa tidak tidak berdaya untuk menolong orang lain & megeluh perilaku yang sangat destruktif.
5. Berikan informasi faktual pada pasien dan keluarga tentang efek perilaku penalahgunaan zat pada keluarga dan apa yang diharapkan setelah pulang.
Rasional : Banyak orang atau pasien yang tidak sadar tentang sifat bahan insektisida
6. Dorong orang terdekat menyadari perasaan mereka sendiri dengan melihat situasi dengan perspektif dan objektivitas.
Rasional : Bila anggota keluarga yang tergantung manjadi sadar tentang tindakan mereka sendiri yang secara terus-menerus ada masalah, mereka perlu untuk memutuskan untuk mengubah diri mereka. Bila meeka berubah pasien dapat menghadapi konsekuensi tindakan pasien sendiri dan dapat memilih untuk mendapatkan yang baik.
7. Kaji perasaan yang menimbulkan konflik individu.
Rasional : Bermanfaat dalam membuat kebutuhan terapi untuk individu yang tergantung.

Diagnosa .5 : Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis,kebutuhan pengobatan dan efek samping penggunaan obat zat insektisida berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan : Pasien mempunyai pengathuan tentang kondisi, prognosis, kebutuhan pengobatan dan efek samping penggunaan zat insektisida.
Kriteria Evaluasi :
- Dapat mengungkapkan pemahaman tentang penyakitnya sendiri dan rencana pengobatan.
- Berpartisipasi dalam program pengoabatan.
- Perubahan perilaku untuk tidak melakukannya lagi.

Intervensi :
1. Sadari dan hadapi ansietas pasien dan anggota keluarga.
Rasional : Ansietas dapat mempengaruhi kemampuan mendegar dan mengasimilasi informasi.
2. Berikan peran aktif untuk pasien dalam proses belajar.
Rasional : Belajar dapat ditingkatkan bila individu secara aktif terlibat.
3. Berikan informasi tertulis dan verbal untuk indikasi.
Rasional : Membantu pasien membuat pilihan berdasarkan informasi tentang masa depan yang bermanfaat untuk pendekatan terapi lain.
4. Kaji pengetahuan pasien tangtang situasi sendiri misalnya penyakit, perubahan kebutuhan dalam gaya hidup.
Rasional : Membantu dalam merencanakan perubahan jangka panjang yang perlu untuk mempertahankan status pantanan.
5. Pantau ulang kondisi & prognosis/ harapan masa depan.
Rasional : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi.
6. Diskusikan efek zat yang digunakan.
Rasional : Informasi akan membentu pasien memahami kemungkinan efek jangka panjang dari penggunaan zat.

Diagnosa .6 : Resiko tinggi terhadap tindak kekerasan pada diri sendiri (berulang) berhubungan dengan perpanjangan depresi/tingkah laku ingin bunuh diri.
Tujuan : Tidak terjadi tindakan ulang kekerasan pada diri sendiri
Kriteria Evaluasi :
- Mengutarakan pemehaman tingkah laku & faktor-faktor yang mempengaruhi.
- Mencapai tahap hilangnya rasa takut & realitas situasi.
- Menunjukkan kontrol diri.

Intervensi :
1. Kurangi ransangan, berikan ruangan yang tenang atau tempatkan pada ruangan yang stimulasinya dikurangi dibawah pengawasan.
Rasional : Menurunkan kreativitas dan menngkatkan rasa tenang.
2. Izinkan orang-orang yang penting bagi pasien untuk tetap tinggal di dalam ruangan selama prosedur dilakukan jika dimungkinkan.
Rasional : Dapat memberikan efek ketenangan jika melihat seseorang yang dikenal oleh pasien dan memberikan penenangan.
3. Pindahkan barang-barang yang berpotensi membahayakan pasien dari lingkungannya.
Rasional : Menurunkan kemungkin pasien mencelakai orang lain atau melakukan ide bunuh diri.
4. Berikan kesempatan untuk mengekspresikan perasaan agresif secara verbal.
Rasional : Memberikan jalan yang baru dalam mengekspresikan perasaan akan membentuk pasien belajar mengembangkan kemampuan memecahkan masalah yang baik.
5. Bantu pasien mengidentifikasi apa yang dapat menyebabkan pasien menjadi marah.
Rasional : Kesadaran akan reaksi merupakan tahap pertama dari belajar untuk berubah
6. Berikan jalan keluar untuk mengekspresikan diri meliputi aktiivitas fisik.
Rasional : Dengan mengaktifkan fisik didalam menciptakan lingkungan yang aman dapat menurunkan dorongan untuk melakukan tindakan agresif.

DAFTAR PUSTAKA

Arief, dkk (2000), Kapita Selekta Kedokteran ed. 3, jilid 2, Medika Aesculapius, Jakarta.
Hudak & Gallo (1996), Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik, EGC, Jakarta.
Marylin. D (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, EGC Jakarta.

ASUHAN KEPERAWATAN LEPTOSPIROSIS


I. LANDASAN TEORI
A. Pengertian
Leptospirosis adalah suatu zoonosis yang disebabkan suatu mikroorganisme yaitu leptospira tanpa memandang bentuk spesifik serotipenya. Penyakit ini juga dikenal dengan nama seperti mud fever, slim fever, swamp fever, autumnal fever, infectoius jaundice, field fever, cane cutler fever.

B. Etiologi
Penyakit yang terdapat di negara yang beriklim tropis. Berbagai subgroup yang masing- masing terbagi dalam atas :
1. L icterohaemorhagiae dengan reservoire tikus (syndroma weil)
2. L. canicola dengan reservoire anjing
3. L pamona dengan reservoire sapi dan babi
Insiden :
Penyakit ini dapat berjangkit pada laki-laki dan perempuan pada semua umur.

C. Manifestasi klinis
Masa tunas berkisar antara 2-26 hari(kebanyakan 7-13 hari) rata-rata 10 hari.
Pada leptospira ini ditemukan perjalanan klini sbifasik :
1. Leptopiremia (berlangsung 4-9 hari)
Timbul demam mendadak, diserta sakit kepala (frontal, oksipital atau bitemporal). Pada otot akan timbul keluhan mialgia dan nyeri tekan (otot gastronemius, paha pinggang,) dandiikuti heperestesia kulit. Gejala menggigil dan demam tinggi, mual, muntah, diare, batuk, sakit dada, hemoptisis, penurunan kesadaran, dan injeksi konjunctiva. Injeksi faringeal, kulit dengan ruam berbentuk makular/makolupapular/urtikaria yang tersebar pada badan, splenomegali, dan hepatomegali.
2. Fase imun (1-3 hari)
Fase imun yang berkaitan dengan munculnya antibodi IgM sementara konsentrasi C¬3, tetap normal. Meningismus, demam jarang melebihi 39oC. Gejala lain yang muncul adalah iridosiklitis, neuritis optik, mielitis, ensefalitis, serta neuripati perifer.
3. Fase penyembuhan (minggu ke-2 sampai minggu ke-4)
Dapat ditemukan adanya demam atau nyeri otot yang kemudian berangsur-angsur hilang.

D. Patofisiologi
Manusia bisa terinfeksi jika terjadi kontak pada kulit atau selaput lendir yang luka/erosi dengan air, lumpur dan sebagainya yang telah tercemar oleh air kemih binatang yang terinfeksi leptospira. Leptospira yang masuk melalui kulit maupun selaput lendir yang luka/erosi akan menyebar ke organ-organ dan jaringan tubuh melalui darah. Sistem imun tubuh akan berespon sehingga jumlah laptospira akan berkurang, kecuali pada ginjal yaitu tubulus dimana kan terbentuk koloni-koloni pada dinding lumen yang mengeluarkan endotoksin dan kemudian dapat masuk ke dalam kemih.
Klik Gambar Untuk memperbesar

E. Komplikasi
Pada leptospira, komplikasi yang sering terjadi adalah iridosiklitis, gagal ginjal, miokarditis, meningitis aseptik dan hepatitis. Perdarahan masif jarang ditemui dan bila terjadi selalu menyebabkan kematian.

F. Penatalaksanaan
Obat antibiotika yang biasa diberikan adalah penisillin, strptomisin, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin dan siproflokasasin. Obat pilihan utama adalah penicillin G 1,5 juta unit setiap 6 jam selama 5-7 hari. Dalam 4-6 jam setelah pemeberian penicilin G terlihat reaksi Jarisch Hecheimmer yang menunjukkan adanya aktivitas antileptospira> obat ini efektif pada pemberian 1-3 hari namun kurnag bermanfaat bila diberikan setelah fase imun dan tidak efektif jika terdapat ikterus, gagal ginjal dan meningitis. Tindakan suporatif diberikan sesuai denan keparahan penyakit dan komplikasi yang timbul.

G. prognosis
Tergantung keadaan umum klien, umur, virulensi leptospira, dan ada tidaknya kekebalan yang didapat. Kematian juga biasanya terjadi akibat sekunder dari faktor pemberat seperti gagal ginjal atau perdarahan dan terlambatnya klien mendapat pengobatan.

II. KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian 1. Identitis
Keadaan umum klien seperti umur dan imunisasi., laki dan perempuan tingkat kejadiannya sama.

2. Keluhan utama
Demam yang mendadak
Timbul gejala demam yang disertai sakit kepala, mialgia dan nyeri tekan (frontal) mata merah, fotofobia, keluahan gastrointestinal. Demam disertai mual, muntah, diare, batuk, sakit dada, hemoptosis, penurunan kesadaran dan injeksi konjunctiva. Demam ini berlangsung 1-3 hari.

3. Riwayat keperawatan
a. Imunisasi, riwayat imunisasi perlu untuk peningkatan daya tahan tubuh
b. Riwayat penyakit, influenza, hapatitis, bruselosis, pneuma atipik, DBD, penyakit susunan saraf akut, fever of unknown origin.
c. Riwayat pekerjaan klien apakah termasuk kelompok orang resiko tinggi seperti bepergian di hutan belantara, rawa, sungai atau petani.

4. Pemeriksaan dan observasi
a. Fisik
Keadaan umum, penurunan kesadaran, lemah, aktvivitas menurun
Review of sistem :
 Sistem pernafasan
Epitaksis, penumonitis hemoragik di paru, batuk, sakit dada
 Sistem cardiovaskuler
Perdarahan, anemia, demam, bradikardia.
 Sistem persyrafan
Penuruanan kesadaran, sakit kepala terutama dibagian frontal, mata merah.fotofobia, injeksi konjunctiva,iridosiklitis
 Sistem perkemihan
Oligoria, azometmia,perdarahan adernal
 Sistem pencernaan
Hepatomegali, splenomegali, hemoptosis, melenana
 Sistem muskoloskletal
Kulit dengan ruam berbentuk makular/makulopapular/urtikaria yang teresebar pada badan. Pretibial.
b. Laboratorium
 Leukositosis normal, sedikit menurun,
 Neurtrofilia dan laju endap darah (LED) yang meninggiu
 Proteinuria, leukositoria
 Sedimen sel torak
 BUN , ureum dan kreatinin meningkat
 SGOT meninggi tetapi tidak melebihi 5 x normal
 Bilirubin meninggi samapai 40 %
 Trombositopenia
 Hiporptrombinemia
 Leukosit dalam cairan serebrospinal 10-100/mm3
 Glukosa dalam CSS Normal atau menurun

5. penatalaksanaan
Lihat pada landasan teori.

6. Diagnosa keperawatan
a. Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan proses infeksi dari perjalanan penyakitnya.
b. Cemas / takut berhubungan dengan perubahan kesehatan (penyakit leptospirosisi) ditandai dengan peningkatan tegangan, kelelahan, mengekspresikan kecanggungan peran, perasaan tergantung, tidak adekuat kemampuan menolong diri, stimulasi simpatetik.
c. Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, syaraf, inflamasi), ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.
d. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan sering bertanya, menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam mengikiuti intruksi/pencegahan komplikasi.
e. Pemenuhan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan intake kurang ditandai dengan klien mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, nausea dan vomitng, berat badan turun sampai 20% atau lebih dibawah ideal, penurunan massa otot dan lemak subkutan,
f. Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake
g. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek kerja penyakitnya deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia.

B. Perencanaan
1. Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan proses infeksi dari perjalanan penyakitnya.
Tujuan : suhu tubuh turun sampai batas normal
Kriteria hasil :
- Suhu tubuh dalam batas normal 36 – 37 0 C
- Klien bebas demam
- Mukosa mulut basah, mata tidak cekung, istirahat cukup

INTERVENSI
RASIONAL
a. Bina hubungan baik dengan klien dan keluarga
b. Berikan kompres dingin dan ajarkan cara untuk memakai es atau handuk pada tubu, khususnya pada aksila atau lipatan paha.
c. Peningkatan kalori dan beri banyak minuman (cairan)
d. Anjurkan memakai baju tipis yang menyerap keringat.
e. Observasi tanda-tanda vital terutama suhu dan denyut nadi
f. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan terutama anti piretik., antibiotika (Pinicillin G )
a. Dengan hubungan yang baik dapat meningkatkan kerjasama dengan klien sehingga pengobatan dan perawatan mudah dilaksanakan.

b. Pemberian kompres dingin merangsang penurunan suhu tubuh.
c. Air merupakan pangatur suhu tubuh. Setiap ada kenaikan suhu melebihi normal, kebutuhan metabolisme air juga meningkat dari kebutuhan setiap ada kenaikan suhu tubuh.
d. Baju yang tipis akan mudah untuk menyerap keringat yang keluar.
e. Observasi tanda-tanda vital merupakan deteksi dini untuk mengetahui komplikasi yang terjadi sehingga cepat mengambil tindakan
f. Pemberian obat-obatan terutama antibiotik akan membunuh kuman Salmonella typhi sehingga mempercepat proses penyembuhan sedangkan antipiretik untuk menurunkan suhu tubuh.Antibotika spektrrum luas.

2. Cemas / takut berhubungan dengan perubahan kesehatan (penyakit leptospirosisi) ditandai dengan peningkatan tegangan, kelelahan, mengekspresikan kecanggungan peran, perasaan tergantung, tidak adekuat kemampuan menolong diri, stimulasi simpatetik.
Tujuan :
- Klien dapat mengurangi rasa cemasnya
- Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif.
- Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan.

INTERVENSI
RASIONAL
a. Tentukan pengalaman klien sebelumnya terhadap penyakit yang dideritanya.
b. Berikan informasi tentang prognosis secara akurat.
c. Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, konfrontasi. Beri informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai.
d. Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien mempersiapkan diri dalam pengobatan.
e. Catat koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak berdayaan dll.
f. Anjurkan untuk mengembangkan interaksi dengan support system.
g. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman.
h. Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar.
a. Data-data mengenai pengalaman klien sebelumnya akan memberikan dasar untuk penyuluhan dan menghindari adanya duplikasi.
b. Pemberian informasi dapat membantu klien dalam memahami proses penyakitnya.
c. Dapat menurunkan kecemasan klien.
d. Membantu klien dalam memahami kebutuhan untuk pengobatan dan efek sampingnya.
e. Mengetahui dan menggali pola koping klien serta mengatasinya/memberikan solusi dalam upaya meningkatkan kekuatan dalam mengatasi kecemasan.
f. Agar klien memperoleh dukungan dari orang yang terdekat/keluarga.
g. Memberikan kesempatan pada klien untuk berpikir/merenung/istirahat.
h. Klien mendapatkan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa dia benar-benar ditolong.

3. Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, syaraf, inflamasi), ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.
Tujuan :
- Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas
- Melaporkan nyeri yang dialaminya
- Mengikuti program pengobatan
- Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang mungkin

INTERVENSI
RASIONAL
a. Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasi dan intensitas
b. Evaluasi therapi: pembedahan, radiasi, khemotherapi, biotherapi, ajarkan klien dan keluarga tentang cara menghadapinya
c. Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan musik atau nonton TV (distraksi)
d. Menganjurkan tehnik penanganan stress (tehnik relaksasi, visualisasi, bimbingan), gembira, dan berikan sentuhan therapeutik.
e. Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila perlu.
f. Diskusikan penanganan nyeri dengan dokter dan juga dengan klien
g. Berikan analgetik sesuai indikasi seperti morfin, methadone, narkotik dll
a. Memberikan informasi yang diperlukan untuk merencanakan asuhan.
b. Untuk mengetahui terapi yang dilakukan sesuai atau tidak, atau malah menyebabkan komplikasi.
c. Untuk meningkatkan kenyamanan dengan mengalihkan perhatian klien dari rasa nyeri.
d. Meningkatkan kontrol diri atas efek samping dengan menurunkan stress dan ansietas.
e. Untuk mengetahui efektifitas penanganan nyeri, tingkat nyeri dan sampai sejauhmana klien mampu menahannya serta untuk mengetahui kebutuhan klien akan obat-obatan anti nyeri.
f. Agar terapi yang diberikan tepat sasaran.
g. Untuk mengatasi nyeri.
4. Pemenuhan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan intake kurang ditandai dengan klien mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, nausea dan vomitng, berat badan turun sampai 20% atau lebih dibawah ideal, penurunan massa otot dan lemak subkutan, 
Tujuan :
- Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda malnutrisi
- Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat
- Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan penyakitnya

INTERVENSI
RASIONAL
a. Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan kebutuhannya.
b. Timbang dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati penurunan berat badan.
c. Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat dan pembesaran kelenjar parotis.
d. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake cairan yang adekuat. Anjurkan pula makanan kecil untuk klien.
e. Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. Hindarkan makanan yang terlalu manis, berlemak dan pedas.
f. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama teman atau keluarga.
g. Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum makan.
h. Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang dialami klien.
Kolaboratif
i. Amati studi laboraturium seperti total limposit, serum transferin dan albumin
j. Berikan pengobatan sesuai indikasi
Phenotiazine, antidopaminergic, corticosteroids, vitamins khususnya A,D,E dan B6, antacida
k. Pasang pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara enteral, imbangi dengan infus.
a. Memberikan informasi tentang status gizi klien.
b. Memberikan informasi tentang penambahan dan penurunan berat badan klien.
c. Menunjukkan keadaan gizi klien sangat buruk.
d. Kalori merupakan sumber energi.
e. Mencegah mual muntah, distensi berlebihan, dispepsia yang menyebabkan penurunan nafsu makan serta mengurangi stimulus berbahaya yang dapat meningkatkan ansietas.
f. Agar klien merasa seperti berada dirumah sendiri.
g. Untuk menimbulkan perasaan ingin makan/membangkitkan selera makan.
h. Agar dapat diatasi secara bersama-sama (dengan ahli gizi, perawat dan klien).
i. Untuk mengetahui/menegakkan terjadinya gangguan nutrisi sebagi akibat perjalanan penyakit, pengobatan dan perawatan terhadap klien.
j. Membantu menghilangkan gejala penyakit, efek samping dan meningkatkan status kesehatan klien.
k. Mempermudah intake makanan dan minuman dengan hasil yang maksimal dan tepat sesuai kebutuhan.

5. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan sering bertanya, menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam mengikiuti intruksi/pencegahan komplikasi.
Tujuan :
- Klien dapat mengatakan secara akurat tentang diagnosis dan pengobatan pada ting-katan siap.
- Mengikuti prosedur dengan baik dan menjelaskan tentang alasan mengikuti prosedur tersebut.
- Mempunyai inisiatif dalam perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam pengo- batan.
- Bekerjasama dengan pemberi informasi.

INTERVENSI
RASIONAL
a. Review pengertian klien dan keluarga tentang diagnosa, pengobatan dan akibatnya.
b. Tentukan persepsi klien tentang kanker dan pengobatannya, ceritakan pada klien tentang pengalaman klien lain yang menderita kanker.
c. Beri informasi yang akurat dan faktual. Jawab pertanyaan secara spesifik, hindarkan informasi yang tidak diperlukan.
d. Berikan bimbingan kepada klien/keluarga sebelum mengikuti prosedur pengobatan, therapy yang lama, komplikasi. Jujurlah pada klien.
e. Anjurkan klien untuk memberikan umpan balik verbal dan mengkoreksi miskonsepsi tentang penyakitnya.
f. Review klien /keluarga tentang pentingnya status nutrisi yang optimal.
g. Anjurkan klien untuk mengkaji membran mukosa mulutnya secara rutin, perhatikan adanya eritema, ulcerasi.
h. Anjurkan klien memelihara kebersihan kulit dan rambut.
a. Menghindari adanya duplikasi dan pengulangan terhadap pengetahuan klien.
b. Memungkinkan dilakukan pembenaran terhadap kesalahan persepsi dan konsepsi serta kesalahan pengertian.
c. Membantu klien dalam memahami proses penyakit.
d. Membantu klien dan keluarga dalam membuat keputusan pengobatan.
e. Mengetahui sampai sejauhmana pemahaman klien dan keluarga mengenai penyakit klien.
f. Meningkatkan pengetahuan klien dan keluarga mengenai nutrisi yang adekuat.
g. Mengkaji perkembangan proses-proses penyembuhan dan tanda-tanda infeksi serta masalah dengan kesehatan mulut yang dapat mempengaruhi intake makanan dan minuman.
h. Meningkatkan integritas kulit dan kepala.

6. Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake
Tujuan :
Klien menunjukkan keseimbangan cairan dengan tanda vital normal, membran mukosa normal, turgor kulit bagus, capilarry ferill normal, urine output normal.

INTERVENSI
RASIONAL
a. Monitor intake dan output termasuk keluaran yang tidak normal seperti emesis, diare, drainase luka. Hitung keseimbangan selama 24 jam.
b. Timbang berat badan jika diperlukan.
c. Monitor vital signs. Evaluasi pulse peripheral, capilarry refil.
d. Kaji turgor kulit an keadaan membran mukosa. Catat keadaan kehausan pada klien.
e. Anjurkan intake cairan samapi 3000 ml per hari sesuai kebutuhan individu.
f. Observasi kemungkinan perdarahan seperti perlukaan pada membran mukosa, luka bedah, adanya ekimosis dan pethekie.
g. Hindarkan trauma dan tekanan yang berlebihan pada luka bedah.
h. Kolaboratif
- Berikan cairan IV bila diperlukan.
- Berikan therapy antiemetik.
- Monitor hasil laboratorium : Hb, elektrolit, albumin
a. Pemasukan oral yang tidak adekuat dapat menyebabkan hipovolemia.
b. Dengan memonitor berat badan dapat diketahui bila ada ketidakseimbangan cairan.
c. Tanda-tanda hipovolemia segera diketahui dengan adanya takikardi, hipotensi dan suhu tubuh yang meningkat berhubungan dengan dehidrasi.
d. Dengan mengetahui tanda-tanda dehidrasi dapat mencegah terjadinya hipovolemia.
e. Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang.
f. Segera diketahui adanya perubahan keseimbangan volume cairan.
g. Mencegah terjadinya perdarahan.
h. Kolaborasi :
- Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang.
- Mencegah/menghilangkan mual muntah.
- Mengetahui perubahan yang terjadi.

7. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek kerja penyakitnya deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia.
Tujuan :
- Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifik
- Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan penyembuhan

INTERVENSI
RASIONAL
a. Monitor perkembangan kerusakan integritas kulit untuk melihat adanya efek kerusakan kulit,
b. Anjurkan klien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal.
c. Ubah posisi klien secara teratur.
d. Berikan advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, minyak, bedak tanpa rekomendasi dokter.
a. Memberikan informasi untuk perencanaan asuhan dan mengembangkan identifikasi awal terhadap perubahan integritas kulit.
b. Menghindari perlukaan yang dapat menimbulkan infeksi.
c. Menghindari penekanan yang terus menerus pada suatu daerah tertentu.
d. Mencegah trauma berlanjut pada kulit dan produk yang kontra indikatif

C. Pelaksanaan
Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien

D. Evaluasi
Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum. Bila perlu langkah evaluasi ini merupakan langkah awal dari identifikasi dan analisa masalah

DAFTAR PUSTAKA


Donna, D.I. Et al. 1995. Medical Surgical Nursing ; A Nursing Process Approach 2 nd Edition : WB Sauders.

Carpenito LJ. 2000. Dokumentasi dan Asuhan Keperawatan. EGC. Jakarta

FKUA, 1984. Pedoman Diagnosis dan Ilmu Penyakit Dalam. FKUA, Surabaya

Rothrock, C. J. 2000. Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif. EGC : Jakarta.

Sjamsuhidajat & Wim De Jong. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC : Jakarta.

Sylviana. 1996. Kapita Selekta Kedokteran Buku 1. EGC. JAkarta